Wednesday, January 3, 2018

Jika karyawan mengkritik anda

comist.me


Jika karyawan mengkritik anda


Jangan Bereaksi. 


Ketika karyawan memberikan kritik kosntruktif pada Anda, cobalah untuk tidak bereaksi sama sekali. Hal ini akan memberikan cukup waktu bagi otak untuk memproses situasi. Bersikaplah te nang, dan usahakan tidak memunculkan ekspresi wa jah yang meremehkan atau sindiran reaktif.

Sebuah Feedback Pasti Bermanfaat. 


Bersikap tenang tanpa reaksi juga membuat Anda memiliki waktu un tuk mengingatkan diri akan manfaat menerima kritik, yakni untuk meningkatkan diri. Keterampilan, hasil kerja, dan hubungan baik adalah hasil positif dari se buah kritik.

Dengarkan, Pahami. 


Dengarkan kritik atau feedback dari karyawan Anda dengan saksama. Upayakan tidak menginterupsinya. Ketika ia selesai, ulangi kembali apa yang Anda dengar.  "Hal ini akan membuatanak buah Anda merasa Anda memperhatikan semua kata katanya dan memahami maksudnya dengan tepat.

Ucapkan Terima Kasih. 


Bagi beberapa orang, ini mung kin bagian tersulit. Menatap mata orang yang meng kiritik Anda dan berterima kasih padanya. Walaupun sulit, jangan mengabaikan tahap ini. Mengekspresi kan apresiasi tidak harus berarti Anda setuju dengan penilaian mereka. Anda hanya menunjukkan bahwa Anda mengakui upaya anak buah memberi evaluasi dan berbagi pikirannya.

Tanyakan Solusi yang Ditawarkan. 


Katakan pada anak buah bahwa Anda teratrik mendengarkan ide-idenya mengenai solusi spesifik dari feedbacknya.

Minta Waktu untuk Follow-Up. 


Anda bisa meminta pertemuan berikutnya agar Anda bisa mengajukan le bih banyak pertanyaan dan mendapatkan kesepakatan tentang langkah selanjutnya. Peluang ini juga memberi Anda waktu untuk memproses kritik dan mendapat kan saran-saran orang lain serta memikirkan solusi nya.

MENDORONG PROBLEM SOLVING MANDIRI


Sebenarnya apa yang dilakukan Bob Sadino dalam menjalankan usahanya tidak jaug berbeda dengan dilakukan pengusaha lain sebut saja keberanian memulai sesu atu, keberanian mengambil risiko, keuletan, serta inova si. Ada banyak pebisnis lain yang memiliki kualitas seru pa. Namun, apa yang membuat langkah-langkah Bob unik di mata banyak orang?

Salah satunya adalah menyediakan dirinya untuk mem bantu siapa pun. Dalam usahanya, ia tak pelit memberi sa ran dan masukan apabila diminta. Ia juga senang membantu orang lain yang ingin maju dan memiliki usaha yang sukses.

Akan tetapi, Bob bukan orang yang senang memanjakan. Ia tak pernah memberitahu ke mana seseorang harus melang kah, hanya memberi arahan saja. Bob lebih senang apabila seseorang maju karena usahanya sendiri. Tidak sedikit-sedikit tanya, sedikit-sedikit minta bantuan, sedikit-sedikit mengeluh.

Baginya, setiap orang yang ingin berbisnis harus mam pu menjadi problem solver mandiri. Artinya, jika menghadapi masalah atau hambatan, ia tak panik dan meminta tolong kesana kemari, melainkan mencoba mencari cara menyelesai kannya terlebih dahulu.

Apabila dianalogikan, kita bisa melihat di sebuah peru sahaan, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin rapi meja kerjanya. Tumpukan kertas laporan kerja di meja manajer lebih sedikit, sementara meja kerja karyawannya dipenuhi dengan map, buku catatan, dan tumpukan berkas mengenai masalah masalah yang harus dibenahinya. Mengapa begitu? Kondisi ini mencerminkan dengan jelas jenis-jenis problem solving yang terjadi pada setiap level dalam perusahaan.

Ketika menjadi seorang business owner, masalah yang ha rus Anda selesaikan memang tidak sebanyak karyawan Anda, namun menjadi lebih beragam dan rumit. Semakin tinggi po sisi Anda dalam perusahaan, semakin sulit masalah yang harus Anda tangani. Anda juga harus menghadapi masalah-masalah besar yang menghabiskan energi.

Dalam konteks ini, sangat penting bagi Anda untuk men dorong karyawan agar mampu bersikap sebagai problem sol ver mandiri. Tidak sedikit-sedikit meminta masalahnya diban tu untuk diselesaikan oleh atasan.

Benar bahwa sebagai atasan, anak buah bisa menemui Anda kapan saja jika memiliki masalah dalam pekerjaan. Dan tentunya, jika seorang karyawan memiliki masalah, secara spontan ia akan menemui atasannya untuk minta bantuan. Namun jika kemudian hal tersebut menjadi kebiasaan, sama saja artinya dengan memanjakan mereka. Atasan tidak mem bantu anak buah jika ia terus mengulurkan tangannya pada setiap masalah yang disodorkan padanya.

Bob Sadino mendidik dan memberdayakan para karyawan untuk membantunya secara proaktif menyelesaikan permasa lahan yang muncul. Dengan menciptakan budaya problem sol ving pada lingkungan kerja, maka karyawan tidak hanya me lakukan tuags-tugasnya, tapi juga berperan serta memikirkan cara penyelesaian masalah.

Ketika karyawan datang menemui Bob dengan membawa masalahnya, ia merespon secara positif tanpa langsung mem beri sebuah solusi. Ia melatih mereka menyelesaikan masalah sendiri. Beberapa atasan yang juga memiliki prinsip sama de ngan Bob, melatih anak buahnya dengan menanyakan perta nyaan-pertanyaan seperti ini:

Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?
Apa yang sudah dilakukan untuk menyelesaikannya?
Pernahkah Anda mengalami masalah ini di tempat kerja sebelumnya? Bagaimana cara menyelesaikannya di sana?
Mengapa Anda mengira masalah ini akan berulang?
Jika Anda ada di posisi saya, apa yang akan Anda lakukan?

comist.me