Monday, January 1, 2018

GOAL ORIENTED


GOAL ORIENTED 


Dianggap gila sudah biasa bagi Bob. Ia tak pernah ter singgung dengan label yang disematkan akibat berbagai langkah dan pemikirannya yang nyeleneh atau keluar dari pakem. Setelah mencapai kesuksesan orang-orang pun mengakui bahwa kegilaan boblah yang membawa nya sampai ke level tertinggi usahanya.

Tak banyak orang yang memiliki keberuntungan bisa be kerja dengan ‘pebisnis gila’ semacam Bob. Kebanyakan justru mendapat atasan yang kaku, angkuh dan tidak mau mende ngarkan. Dan tidak semua pemilik bisnis menyadari bahwa mereka berperilaku buruk pada bawahan atau koleganya.

Suka tidak suka, atasan memiliki kemampuan intimidasi, sebab mereka mengendalikan kedudukan Anda dalam bera gam cara. Seorang atasan memiliki pengaruh amat besar pada peran anak buah, dan bisa saja menempatkan Anda pada si tuasi yang sulit. Atasan memiliki power di atas anak buah, dan jika mereka juga memiliki perilaku suka “memplonco” maka habislah anak buahnya.

Banyak karyawan yang beruntung mendapatkan atasan yang tepat seperti Bob, tapi tidak sedikit yang harus berurus an dengan atasan berperilaku buruk. Sebagai atasan, Anda adalah kepala organisasi, manajer dari tim kerja. Anda me miliki orang-orang yang melakukan tugas dan berkontribusi pada tujuan perusahaan. Banyak karyawan hebat dan produk tif pada akhirnya memilih untuk tidak meninggalkan perusa haan, melainkan meninggalkan atasannya.

Ketika seorang atasan terlalu fokus dan sangat goal oriented, mereka seringkali tidak menyadari bahwa mereka sudah melewati batas dalam memperlakukan kolega atau anak buahnya. Anda bersikap intimidatif, banyak menuntut, dan memarahi habis-habisan anak buah yang gagal dalam tu gasnya. Ketegangan semacam ini membuat lingkungan kerja tidak produktif sebab karyawan terus menerus demotivasi.

Bob Sadino senantiasa menyeimbangkan antara figurnya sebagai pemimpin dan sebagai seseorang yang mampu men ciptakan hubungan baik dengan “anak-anaknya”. Bagaimana pun juga, lingkungan kerja sebaiknya dipenuhi aura positif sehingga orang-orang di dalamnya dapat menikmati pekerjaan nya masing-masing.

Bob memperlakukan setiap orang dengan tingkat rasa hormat yang sama. Membuat orang merasa dihargai akan menjadi salah satu reward terbesar yang bisa ia berikan se bagai atasan. Selain itu, hal tersebut dapat meningkatkan sisi sosial dari perusahaan.

Lantas bagaimana ciri-ciri pebisnis yang suka “memplon co” karyawannya?

Sindrom Superiority Complex


Beberapa pebisnis senang membentak dan seringkali mencari peluang untuk bisa mendamprat bawahannya. Orang seperti ini mungkin menderita sindrom superiority complex, ia yakin semua orang itu salah. Ia tak suka men cari tahu alasan di belakang sebuah masalah, sebaliknya ia sudah mengomel sebelum permasalahannya jelas. Ia me rasa dengan memarahi bawahannya, ia sudah mencegah masalah terjadi lagi.

Ciri khas dari pebisnis dengan sindrom ini adalah penam pilannya yang tidak tenang. Tidak hanya terlihat dari cara berjalannya, tapi juga cara duduknya. Jika mengintip ke ruang kerjanya, kita akan melihat dia selalu mengubah ubah posisi duduk di kursinya. Bahkan sebelum ia berkata apapun, ia membuat kita gugup dan cemas mengenai apa yang hendak dikatakannya.

Menunjukkan Kekuasaan 


Pebisnis seperti ini bangga sekali menunjukkan kekuasaan dan powernya, tidak hanya di tempat kerja, tapi juga dirumah. Orang semacam ini biasanya yakin bahwa atasan merupakan profesi terbaik di dunia dan bawahan harus selalu tunduk padanya.

Pebisnis jenis ini jelas-jelas posesif dengan kedudukan nya dan ingin memberikan kesan bahwa ia selalu bisa mengendalikan situasi, bahkan jika pada kenyataannya ia tidak mampu. Ia insecure dan sibuk mencoba mengontrol orang lain sehingga saat anak buahnya melakukan kesa lahan, ia tetap berpura-pura tidak melihatnya atau mene gurnya.

Lepas Tanggung Jawab 


Atasan seperti ini memberikan kesan ia “dilemparkan” ke posisi yang tidak disukainya. Biasanya atasan semacam ini adalah karyawan yang dipromosikan tanpa kualitas yang relevan. Ia adalah orang yang terpaksa dipilih oleh mana jemen karena tidak ada pilihan lain.

Ciri-ciri atasan jenis ini terlihat dari cara bicaranya pada rapat-rapat kantor. Ia mungkin senang menunjukkan prestasi-prestasinya di dalam rapat, dan sisanya hanya membicarkan omong kosong. Ia memiliki performa kuat namun kurang keterampilan manajemen.

Suka Mengintimidasi 


Pebisnis yang suka mengintimidasi bersikap tidak masuk akal, agresif dan selalu memerintah. Ego-nya yang kuat terus ditunjukkan pada anak buah. Rasanya ia seperti se dang berperan sebagai pimpinan mafia kriminal ketim bang sebagai leader sebuah perusahaan. Di satu sisi, dia mengancam anak buah dan di sisi lain dia tidak melakukan apapun karena merasa insecure. Ia tidak ingin kehilangan pengaruh atas bawahannya. Ia yakin bahwa intimidasi akan mengurangi ketergantungan pada anak buah. Itu mengapa ia kadang-kadang seperti men cari kesalahan pegawainya.

Unggul dan Memengaruhi 


Idealnya, tipe pebisnis semacam ini dapat menjalankan perusahaan dengan baik. Ia seharusnya dapat menangani manajemen dan juga anak buah secara efisien. Perusa haan menyukai orang seperti ini karena mereka memiliki aura positif akan dirinya. Hal tersebut membuat perusa haan yakin ia dapat memproduksi hasil bagus, bahkan di tengah-tengah krisis.

Pebisnis jenis ini tidak berperilaku buruk pada karyawan, tapi kejam dalam bisnis. Benar bahwa tidak semua pebis nis berpengaruh dapat menginspirasi, namun mereka me miliki cara (tepatnya, muslihat) untuk membuat orang lain bekerja di luar batas kemampuan. Ia berpengaruh sangat profesional dan berharap karyawannya bersikap seusai standarnya.

comist.me